Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Saatnya KB dikampanyekan Lagi


Sekarang bukan zamannya lagi ada anggapan banyak anak banyak rejeki, namun lebih tepatnya banyak anak banyak masalah. Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki jumlah penduduk yang besar. Tak heran jika masalah demi masalah terus melanda Indonesia khususnya masalah ekonomi yang erat dengan kependudukan.
Dalam hal jumlah penduduk, Indonesia menempati posisi keempat dunia di bawah Amerika serikat (tahun 2005). Sungguh ironis, jumlah penduduk yang sangat besar tersebut tidak dibarengi oleh kemajuan negara. Tak heran jika Indonesia hanya menjadi negara yang sedang berkembang dengan angka kemiskinan yang tinggi. Kepadatan penduduk tidak dapat dielakkan dan menimbulkan bermacam masalah di dalam masyarakat tersebut seperti pengangguran, kriminal, tempat kumuh, kemacetan lalu lintas yang semakin lama akan terus mencekik kondisi bangsa ini. Masalah-masalah itu sepertinya menjadi sebuah mata rantai yang sulit sekali diputuskan.
Salah satu faktor penyebab masalah itu adalah kurangnya sistem manajemen kependudukan yang sehat dan berkelanjutan. Kita tahu Indonesia mempunyai angka kelahiran total (TFR) cukup tinggi. Jika tidak dapat ditekan akan menimbulkan dampak kependudukan yang tidak sehat. Salah satu caranya adalah dengan menggiatkan kembali program KB secara efektif dan berkelanjutan. Indonesia telah mendapat penghargaan dari PBB berupa “Population Award” sebagai wujud pengakuan dan penghargaan dunia atas keberhasilan Indonesia dalam pengendalian masalah kependudukan. Namun pengakuan dan penghargaan itu ternyata tak membuat pemerintah untuk merefleksi diri. Sepertinya pemerintah lengah dalam menghadapi gejala-gejala yang terjadi di masyarakat. Pemerintah kurang tanggap terhadap masalah yang ada, sehingga ketika program KB dinyatakan berhasil menekan jumlah penduduk, pemerintah seolah-olah hanya duduk manis tanpa merencanakan program KB selanjutnya. Akhirnya Program KB hanya terbengkalai seperti ladang kering saat kemarau panjang.
Tidak dapat dipungkiri juga, masyarakat sekarang ini mulai memandang sebelah mata Program KB. Ini salah satu kecerobohan sistem kependudukan yang dijalankan pemerintah. Berkurangnya sosialisasi membuat antusiasme masyarakat terhadap KB menjadi berkurang. Jika sosialisasi KB tetap berjalan seperti saaat mengampanyekannya, saya sangat optimistis minat warga dalam ber-KB akan tetap tinggi.
Saat KB dicanangkan sebagai Program Nasional pada tanggal 29 Juni 1970, Program KB Nasional mempunyai 2 tujuan yaitu menurunkan angka kelahiran total (TFR) dan melembagakan atau membudayakan Norma Keluarga Kecil yang Bahagia dan Sejahtera (NKKBS). Namun kedua tujuan itu tidaklah akan berhasil jika tidak ditunjang dnegan kinerja yang efektif dan berkelanjutan. Jadi upaya untuk mensosialisasikan dan mengampanyekan KB harus selalu tetap berjalan agar tidak hanya berjalan di tempat.
Sekarang program harus mempunyai tantangan dan tujuan yang lebih komplek untuk mengupayakan kesejahteraan penduduk Indonesia. Sistem manajemen kependudukan yang efektif dan berkelanjutan juga harus diterapkan secara maksimal sehingga Program KB yang masih mempunyai agenda kependudukan (zero population growth) dan Pembangunan keluarga yang berkualitas akan berjaya kembali.
Andi Dwi Handoko
Andi Dwi Handoko Pendidik di SMP Negeri 2 Jumantono. Pernah mengajar di SD Ta'mirul Islam Surakarta dan menjadi editor bahasa di sebuah surat kabar di Solo. Suka mengolah kata-kata di DapurImajinasi dan kadang juga di media massa. Pernah juga mencicipi sebagai pelatih Teater Anak dan Pimred Majalah Sekolah. Suka juga bermusik. Hubungi surel adhandoko88@gmail.com, Instagram adhandoko88, atau facebook.com/andi.d.handoko

Posting Komentar untuk "Saatnya KB dikampanyekan Lagi"

Berlangganan via Email