Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Abadikan Nama Lewat Menulis


Jika diberi pertanyaan, “Mengapa saya menulis?”, cukup mudah saja jawabannya yakni saya menulis karena panggilan jiwa. Tidak mengada-ada atau semacam hiperbolis, tapi itu adalah suatu kenyataan bahwa menulis adalah panggilan jiwa. Sikap dalam menulis selalu diselimuti rasa yang membahana dalam jiwa. Tujuan utama menulis bukan hanya mengeksplor apa yang ada dalam diri kita. Tujuan menulis adalah kepuasan jiwa yang tertuang dalam sebuah karya yang baru saja kita tulis. Tulisan yang dihasilkan adalah senandung jiwa. Apa yang dirasakan dapat dituangkan melalui sulaman kata-kata hingga menimbulkan efek bagi setiap orang yang membacanya. Tak ayal juga, si penulis mempunyai suatu kebanggaan sekaligus kepuasan karena telah menetaskan sebuah karya yang dapat dinikmati orang lain. Tulisan yang telah lahir dari tangan kita seharusnya menjadi suatu dasar yang dapat kita banggakan. Kita tak usah minder jika tulisan kita tersa tidak enak dibaca atau secara kasarnya boleh dibilang jelek. Jika kita menulis atas panggilan jiwa dan apa yang kta tulis adalah murni dari sebuah inspirasi atau proses kreatif kita sendiri, saya yakin kita tak akan minder atau takut mempublikasikan karya yang telah kita tulis. Tulisan yang sudah kita buat dapat menjadikan sebuah motivasi untuk menuangkan ide-ide yang banyak mengendap dalam benak kita.
Menulis itu mudah. Menulis tidak memerlukan banyak tenaga, tapi dengan menulis kita dapat bermain-main dengan imaginasi kita. Pada umumnya orang-orang hanya mengunakan imaginasi untuk melamun dan hasilnya adalah sebuah imaginasi yang semu tanpa kenyataan, namun dengan menulis imaginasi tersebut dapat tertuang menjadi sebuah senandung kata-kata konkret yang mempunyai sebuah makna walau terkadang juga bersifat fiksi. Walaupun bersifat fiksi, imaginasi yang tertuang dalam tulisan dapat diambil hikmahnya berupa amanat pesan yang ada dalam tulisan tersebut, sehingga imaginasi tidak hanya terlukar dalam angan dan hanya menjadi hayalan yang semu tanpa makna. Menulis berart menghibur diri sendiri dan orang lain. Jika kita sendiri, tak ada teman untuk berbagi, tulisan adalah media yang tepat untuk berbagi tentang apa yang kita rasakan. Kita dapat menghibur diri kita dengan bercerita tentang keluh kesah atau rasa bahagia yang kita rasakan. Hasil dari tulisan itu dapat berupa cerpen atau puisi bahkan dapat berbentuk novel. Orang lain yang membaca tulisan kita juga akan merasa terhibur dan dapat menggali apa yang tersirat ataupun yang tersurat dalam tulisan tersebut.
Menulis adalah penghibur di saat sepi, seperti yang telah saya singgung di atas. Kita bisa mencurahkan isi hati kita lewat tulisan. Itu artinya kita harus menulis. Sebuah rasa yang kita rasakan terkadang kita curahkan kepada seseorang karena merasa malu, padahal dengan berbagi akan melepaskan sebuah rasa yang yang terpendam dalam hati. Jika kita menulis sebuah ungkapan rasa di dalam hati menjadi sebuah cerpen atau puisi dan orang lain membacanya, tentu kita sudah berbagi dengan mereka yang telah membacanya. Kemudian keuntungan lainnya adalah cerita yang telah kita tulis telah lepas dari dalam diri kita. Tentunya orang akan bertanya-tanya, tulisan itu sesuai dengan apa yang dialami penulis atau tidak. Di sini penulis bebas menjawab sesuka hatinya. Penulis bisa mengatakan sejujurnya kalau itu memang benar seperti apa yang dirasakan atau yang dialaminya. Namun dapat juga penulis merahasiakan tentang kebenaran cerita yang telah ditulisnya, karena tulisan itu berupa cerpen, puisi atau novel yang sudah paten menjadi sebuah karya fiksi.
Saya menulis juga untuk mengungkapkan apa yang ada dalam benak pikiran saya. Saya ingin menciptakan sesuatu yang bau berupa cerita yang ada dalam angan dan benak saya. Gagasan yang terpendam dalam keluar secara utuh melalui tulisan. Pada umumnya setiap tulisan yang saya hasilkan adalah curahan hati saya. Saya merindukan sebuah kenangan yang telah saya lalui, maka saya menulis sebuah cerita, pendek saja ceritanya, sehingga menjadi sebuah cerita pendek yang mengisahkan kenangan saya tersebut. Secara keseluruhan cerita itu tidak utuh seperti yang saya alami, namun saya bumbui agar cerita itu lebih terkesan dengan tidak mengabaikan inspirasi utama atau kebenaran cerita kenangan yang saya alami. Terkadang saya juga menulis sebuah cerita yang lepas dengan kehidupan pribadi saya. Hal ini berarti saya mempunyai ide yang bebas. Saya menceritakan sesuatu yang memang saya sendiri tidak mengalaminya. Menulis yang demikian, saya merasakan saya menciptakan sebuah cerita kehidupan yang baru, saya menuangkan gagasan-gagasan saya bebas lepas tanpa halang-halang sebuah kebenaran yang nyata saya alami. Jadi cerita itu benar-benar fiktif, namun sering kali di dalam kehidupan nyata juga terjadi.
Saya menulis juga sering terinspirasi dari sesuatu. Setelah menonton film dengan cerita yang mengesankan, maka saya sepertinya tertantang untuk menulis sebuah cerita yang juga harus berkesan bagi setiap orang yang membacanya. Tak hanya itu, inspirasi-inspirasi muncul setelah saya membaca sebuah cerpen, novel dan yang lainnya. Terkadang juga pengalaman nyata walau tak mengalami secara langsung menjadi inspirasi sebuah cerita. Misalnya saja ketika saya menyaksikan sebuah korban bencana alam yang sedih dan menangis karena kehilangan harta bendanya bahkan keluarganya. Hal ini merangsang saya untuk menuliskannya dalam sebuah catatan atau cerita sehingga dengan kata-kata dalam cerita itu ornag yang membacanya juga turut merasakan apa yang telah mereka rasakan itu.
Dengan menulis kita juga bisa mendapatkan uang. Peran media masa sangat penting bagi dunia tulis-menulis. Puisi atau cerpen yang kiat tulis dapat kita kirimkan ke media masa dan jika dimuat maka kita akan mendapat honorarium yang lumayan. Dengan menulis kita dapat mencurahkan rasa sekaligus dapat mengahasilkan uang. Cukup banyak hal yang bermanfaat yang dapat kita dapatkan dari menulis. Pengalaman-pemgalaman baru pasti akan kita dapatkan dengan menulis. Menulis berarti mengungkapakan sebuah pengetahuan yang berupa pengetahuan tentang ilmu atau pengalaman hidup. Dapat disimpulkan bahwa orang yang dapat menlis berarti kaya ilmu atau pengalaman.
Ada sebagian orang gemar menulis namun malu untuk mempublikaikan kepada orang lain. Ia hanya puas sendiri. Ia memperoleh sebuah kepuasan setelah menulis tanpa dibaca orang lain. Itu hanya untuk mencurahkan isi hati saja, setelah itu dibaca sendiri dan disimpan. Itu saja. Menulis seperti ini mempunyai manfaaat hanya kepuasan diri. Orang lain tak dapat menilai apakah karya itu baik atau buruk karena tak ada yang membaca. Kasus seperti ini banyak terjadi pada mereka yang mempunyai sebuah kepercayaan diri yang kecil. Mereka merasa malu atau rikuh untuk mengaktualisasi karya mereka. Kasus semacam ini dapat saya ibaratkan dengan orang masturbasi yang hanya menikmati bagian dari mereka sendiri. Mungkin dari kasus semacam ini muncul sebuah istilah “fenomena masturbasi karya” karena karya itu hanya dinikmati oleh penciptanya sendiri.
Ada peribahasa “gajah mati meninggalakan gading, harimau mati meninggalkan belang maka manusia mati meninggalkan nama. Torehan tinta yang terukir indah menjadi cerita dapat mengabadikan nama kita. Manusia dihargai melalui karya dan jasanya. Mungkin bagi penulis-penulis karya adalah andalan untuk mengabadikan nama, walau para penulis sudah meninggal, namun karya-karyanya yang mencantumkan namanya masih eksis dibaca orang-orang. Sebagai contoh kita lihat karya-karya Khalil Gibran yang terkenal hingga sekarang dan banyak orang yang menyukai dan mengaguminya tanpa melihat orangnya. Begitu mendengar nama Khalil gibran pasti orang-orang akan langsung menangkap sebuah pikiran bahwa dia adalah sastrawan terkenal sepanjang masa. Dengan menulis kita dapat mengabadikan nama kita lewat tulisan-tulisan kita. Untuk itu mari kita budayakan menulis.
Andi Dwi Handoko
Andi Dwi Handoko Pendidik di SMP Negeri 2 Jumantono. Pernah mengajar di SD Ta'mirul Islam Surakarta dan menjadi editor bahasa di sebuah surat kabar di Solo. Suka mengolah kata-kata di DapurImajinasi dan kadang juga di media massa. Pernah juga mencicipi sebagai pelatih Teater Anak dan Pimred Majalah Sekolah. Suka juga bermusik. Hubungi surel adhandoko88@gmail.com, Instagram adhandoko88, atau facebook.com/andi.d.handoko

1 komentar untuk "Abadikan Nama Lewat Menulis"

  1. ada teman saya pernah berkata "scripta manent verba violant", entah benar atau tidak tulisan tersebut, yang jelas sepertinya artibya seperti ini, "yang ditulis mengabadi yang diucap berlalu bersama angin"

    mungkin itu bisa dijadikan alasan untuk menulis ya, saya setuju dengan mas, menulis adalah bentuk eksistensi, salah satu cara untuk mengabadi... karena manusia secara harafiah tidak bisa hidup selamanya

    BalasHapus

Berlangganan via Email