Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Puisi

kisah hidup

di tengah kabut yang menderai pucuk pucuk cemara
langit membenamkan riuh takdir sang kuasa
adakah tajam tangan angin menghempas berjuta buaian landai
sehingga menerbangkan helaian daun daun yang mulai rapuh
seperti udara malam dalam keheningan surya padam
tengadahkan mata yang mulai layu terayun langkah gontai
menari menandakan secuil senyum yang terbakar merah hati
kalaupun ada yang menjamah hanyalah tanah basah
dan hujan akan berhenti ketika senyum itu telah pudar
segenap menyimpan berjuta makna yang lama terpendam
lihatlah surya telah memulai harinya
dan senyum kecil itu telah bangun walau tak seceria kemarin
mencoba mengatupkan lara oleh gerlap sang dunia
hitam yang menyelimuti tak luruhkan singgasana hati

dalam pusaran kilau mentari
pesankan pada awan untuk membungkus sejuta diam
dan menerbangkannya ke seluruh alam maya
seperti halnya seuntai lirik tak bernyawa ini
ingin terbang mengelilingi hidup dengan sejuta iringan peri
yang menatap penuh warna
hingga menyatukan rasa dalam selaksa makna


***$$***

Jasad-jasad Cinta

Bangkit berdirilah pengukuh jiwa
terbanglah bersama angin mengarah ke nadi
cucurkan tangis senyummu
hingga
menjadi darah menghidupkanku
sampaikan pada jasaad-jasadku yang mati
ia masih bernyawa
menuang sari-sari air memabukkan
bersendawa mengukus bingkisan alam
sadarkan bahwa kenyataan tak hanya sebuah desir bayangan
namun sebuah titian hati terjalani
menggapai bawah sadar menghanyut
tirai pembatas antara hidup dan mati
engkaulah sukma pembangkit jasad-jasad cintaku yang mati
kekuatan nadi memerahkan darah kerinduan
menyergap dinding-dinding kesucian
meringkuh sukma-sukmamu yang melayang
di titian jasadku


***$$***
Nyanyian surga

Jika kau menerbangkanku seperti dedaunan
tertiup angin
bukankah aku seperti burung-burung
yang membuat tubuhku menjadi sarangnya
menghangatkan tubuh dari sengatan raja cahaya
dan hempasan badai yang merontokkan bulu-buluku
sembunyi dari kutukan alam
mengais seberkah kelangkaan rasa
rebahkan tubuh di istana yang ku bangun
menjadi mahkota berlian
menyerupai regukan bidadari-bidadari surga
melantunkan di antara bibir-bibir tipisnya
tentang nyanyian surga



***$$***

Tenunan Kasih

berduri silih menyapa
menggempur lumpuh udara malam
menjangkitkan sayup kelopak mata
dan menemani dewi malam menenun kain kasihnya
menerawang di rajutan mimpi mimpi
melupakan sejenak hari yang keras
bertumpu pada sinar bayang malam
ku sampaikan pesan bintang pada awan gelap
di atas arakan seribu bayang
maka tak hanya itu
dewi dewi malam ikut menangis
merenungi
rajutan kainnya menganga tersobek asa
***$$***
Ranting-ranting patah

aku melihat ranting ranting patah di balik jeruji dedaunan
masih menengadah pada tanah basah
ilalang bersambut sayap kupu yang pecah
kabur terhempas angin terkuras
daun daun melepas setelah menguning
membuat rentetan kata kata yang menghiasi tanah lapang
dia bisa bermetafora dengan ayunan urat urat daun
berhelai helai menjatuhkan diri dari
ranting ranting patah
dan terbang melayang layang
mengikuti arah mata angin
aku tak menemui ada serangga kecil
seakan menarik daun
atau aku tak tersadarkan
dan terpaku pada tingkah laku ranting ranting patah
aku berlari sambil mengernyitkan dahi
berpikir sejenak kapan aku lepas
dari jeratan fatamorgana
selepas senja mendatangkan malam tak kulihat lagi rintihan ranting ranting patah
dan suara dedaunan melambai lambai tergerak
sepoi angin menyapa
hanya sinar bintang semakin lama meredup
tertutup awan berarak meninggalkan ujung dunia
***$$***
Di balik gelas kosong

menyerupai kilauan bening
menjauhi pandangan mata
bunyi denting kecil mengecil
seusai tenggorokan menyambutnya
terngiang fatamorgana hinggap dalam balutan
kering dahaga
tersembunyi hasrat merengkuhnya
sia sia tak kutemukan
setetes atau beberapa teguk air
kosong menghampa di sudut
antara ruang ruang yang bening
***$$***
Catatan hidup

dalam buku kehidupan
sang malam menulis jejak jejak
lusuh
mengganti bait bait siang
sekelumit kisah pagi menertawakan senja yang
datang terlambat
kemudian menetap mata kosong
di temui juga kisah kisah insan bergerak menuruti
langkah
tegak, doyong, gontai bahkan lemah terbujur kaku
hanya di depan mereka datang
tak datang menjumpai belakang
mungkin sekedar ingatan saja
kisah hidup fana ini
nantinya akan berakhir
***$$***
Sisi gelap

aku datang di antara samar samar
menelan indah sisi hidupmu bersama
waktu yang takkan pudar
menetap sisi batinmu yang menipu
seperti bayangan dapat gelapkau takkan mampu melihat
sejurus kau coba tangkap raut wajahku semakin melahat
aku mencoba bertanya pada gelap
kapan dirinya menjauhiku
teruntun waktu yang akan bisa menjawab
nahkoda hati berharap cepat berlalu
langkah teriring jejak kaki
menikam diri setajam batin
di antara cahaya pagi memulai sepi
dendangkan lagu berirama dingin
siarkan pada semua insan larang mereka meniru langkahku
kepahitan pasti berjabatan
sisi lain indah liku hidupku
***$$***
ukiran nisan

merayap pelan menuju kematian
berpesan tulisan ukiran nisan
berkembara sahut sahutan suara malaikat tuntunan tuhan
hanya sebuah luka goresan saat ku berenang ke tepian
laun waktu hempas kesombongan
larut dalam sebuah kenistaan
derajat niat pangkat berlabuh setan
bertunggal sikap nan kebodohan
seribu sihir menyulap kekayaan
neraka hati tatap di ujung jalan
ukiran nisan masih di depan
di pahat indah di antara kotoran
nyawa dengan indah melayang topan
biarpun petaka melukis kehangatan
deru bising sejumlah kawanan
semasa di dunia berteman setan
beribut tawa neraka tuhan
sesal lalu mengharap ampun tuhan
***$$***
Dia datang

Riak bayangan masih jelas
bersandar mengapit sisi batin
terjaga lembut alunan sepoi malam
menemani kerapuhan sang dewi
terbang mengepakkan sayap kecilnya
menyerupai belaian malaikat
mencoba menusuk malam dengan senyum abadi
antara palung gelap
masih ada sekat bening menghantam dinding kekosongan
meraba udara bergerak mengerlipkan mata
hanya dapat bicara kepastian dari langit
turun menghancurkan butir-butir kebekuan jiwa
menari indah bersama kepakkan sayapnya
bersandar pada hembusan angin
tertatap semburat kabut melewati tapak jalan
mengendap bersama sukma melayang
masih ada tawa terpekik
keluar lembut mengalun beriringan
terukir kuat diantara belahan jiwanya
sangat mungkin ia lelah terbang
menukik melenturkan sayapnya
masuk diantara rongga hati
bersemayam tenang bersama sukma
di indahnya kedamaian pusara jiwa
Andi Dwi Handoko
Andi Dwi Handoko Pendidik di SMP Negeri 2 Jumantono. Pernah mengajar di SD Ta'mirul Islam Surakarta dan menjadi editor bahasa di sebuah surat kabar di Solo. Suka mengolah kata-kata di DapurImajinasi dan kadang juga di media massa. Pernah juga mencicipi sebagai pelatih Teater Anak dan Pimred Majalah Sekolah. Suka juga bermusik. Hubungi surel adhandoko88@gmail.com, Instagram adhandoko88, atau facebook.com/andi.d.handoko

Posting Komentar untuk "Puisi"

Berlangganan via Email