Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

PUISI BULAN INI

Sajak air

di sungai panjang itu
ku karamkan sajak sajakku
tertawa bersama riak air
bergulung gulung menyerupai
awan berarak begitu cepat di langit
kemudian berlabuh
di muara berpucuk delta
laut laut menanti sajakku
biru tersa kecil sajakku untuk menghuninya
serta lihatlah
sajak sajakku kini bergulung gulung
memecah ombak
datang bersama ganasnya badai



Jasad-jasad cinta 2

Masih terbujur kaku
beku merentangkan ucapku
terdengar lirih suara meluruh
menjebol alunan sepi menepi
untaian jasad-jasad cinta menggantung
setiap pojok kerinduan
menanti harap cemas
membujur kaku
membeku padu
mengikat waktu
hanya untuk itu
bahwa kepastian sang dewi
penawar kebekuan
menghangatkan sampai jasad-jasad cintaku
bergerak melewati keras sekat batinmu


jasad jasad cinta 3

berdirilah tegak mengukuhkan sukmaku
damaikan sela sela batinku yang koyak
menyerupai kencana alam
bagai hiasan hidup abadi
menjelang tawa terhempas waktu
menetap selongsong berisi darah membeku
dan kau kaparkan aku
ke sebuah pembaringan abadi
tiupkan napas batin
harum menyiram beku batin
tersirat bahwa
jasad jasad ini telah luruh dalam cintamu


Tereja langkah

aku mengeja langkah terseret
dalam palung kehidupan
langkah demi langkah mencoba mengeja
menyapu landai ukiran senja
lampau telah usai
lalu menghitung waktu
asa bukan menanti
melainkan di cari dan mencari
menghitung detik langkah ke jalan peraduan
ingin waktu tertelan bersama regukan kisah kita


Lepas pantai

lambaian laut sore memarunkan langit
sejumlah camar mulai ke peraduan
kecil menghadap hamparan kemilau
berdiri membeku berkarang mati
seperti bekunya angkuhku mengakuimu
aku ingin menjadi ombak
setiap detik membelai pasir cintamu
aku ingin menjadi angin
setiap detik membelai indah nyiurmu
aku ingin menjadi badai
meruntuhkan karang hatimu
dan hanya itu dalam lamunan
menjadi keteduhan semu
karena kau masih menatapku
jauh………
kemudian menjauh…
jauh……..



Sepenggal pagi


kau sepenggal pagi
menyisakan senja bermuram
kepada burung burung manyar
kau kabarkan tak ada pijar kabut hari ini
tak ada serpihan embun
membasahi kepakan sayapnya
kau sepenggal pagi
melukis tawa berkanvas duka
kepada buih buih ombak
kau ceritakan ada serpihan cahaya terang di hatimu
melirik tepat satu kebahagiaan
sayang…………..
tak kau lihat ada seekor manyar
menggigil tersayat gontai
di perih sayap berdarah


Aku tak suka melati

kau tak ubahnya sebuah melati
putih suci berbau wangi
pagi kau pancarkan nurani
tak hiraukan apakah sepi
namun aku tak suka melati
layu di kemudian hari
namun aku masih berharap
kau tak ubahnya sebuah melati
putih suci berbau wangi
tentunya melati abadi
tumbuh suci di hati sanubari





Andi Dwi Handoko
Andi Dwi Handoko Pendidik di SMP Negeri 2 Jumantono. Pernah mengajar di SD Ta'mirul Islam Surakarta dan menjadi editor bahasa di sebuah surat kabar di Solo. Suka mengolah kata-kata di DapurImajinasi dan kadang juga di media massa. Pernah juga mencicipi sebagai pelatih Teater Anak dan Pimred Majalah Sekolah. Suka juga bermusik. Hubungi surel adhandoko88@gmail.com, Instagram adhandoko88, atau facebook.com/andi.d.handoko

Posting Komentar untuk "PUISI BULAN INI"

Berlangganan via Email