Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Puisi


Bunga Duka

Duka itu seperti kabut di tengah hari
menggelapi setiap mata yang melihat
membuat perih di kelopak mata
lirih langit berucap pada bumi
duka itu bernama kematian
saat itu tumbuh bunga air mata bangsa
bunga yang kian layu dan akhirnya kering
dalam kabung berhias doa
air mata negeri tumpah
menjadi lukisan bela sungkawa
bunga itu masih memberi keharuman
insan-insan belum melupakan indah kelopaknya
belum dapat mengaburkan keharumannya
walau setiap batangnya menyimpan duri
ia tetap bunga sejati bangsa
dan dalam linang doa
mereka menyemayamkan dalam taman keabadian

Wajah Teduh Itu

Wajah teduh itu
bernama putra bangsa
memimpin negeri dengan kedua tangan bahunya
di antara keteduhannya ada bara api
panasnya mampu membakar semangat bangsa
mampu membangun negeri penuh kuasa
hingga negeri berubah maju
namun wajah teduh itu
mampu membuat kebebasan tersangkar mati
terkunci dalam sebuah kekuasaan
hingga suara-suara hening dalam dekapannya
dari semua kisahnya
Wajah teduh itu
patut dihargai sebagai putra bangsa
dan kini
Wajah teduh itu
telah kembali ke alam yang teduh
Andi Dwi Handoko
Andi Dwi Handoko Pendidik di SMPN 2 Jumantono. Pernah mengajar di SD Ta'mirul Islam Surakarta dan menjadi editor bahasa sebuah surat kabar di Solo. Suka mengolah kata-kata di dapurImajinasi dan kadang di media massa. Pernah mencicipi sebagai pelatih Teater Anak dan Pimred Majalah Sekolah. Suka bermusik.

Posting Komentar untuk "Puisi"