Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Pertemuan


Sudah seminggu Raka berada di Solo. Ia ditugaskan untuk mencari berita sekaligus mengabadikan beberapa peristiwa di dalam gambar dengan kamera kesayangannya. Kamera itu telah menemaninya sepuluh tahun yang lalu yang merupakan kenangan terakhir dari almarhum ayahnya. Beberapa berita telah ia dapatkan dan sudah dikirimkan ke redaksi melalui email. Namun ia masih tetap diberi tugas untuk tetap di solo. Entah kapan ia harus berada di Solo.
Ia begitu suka dengan keadaan kota Solo. Cukup menyenangkan baginya, dari pada kota kelahirannya, Jakarta. Menurutnya budaya cukup kental di solo dan itulah yang membuatnya betah. Yah, itulah pekerjaannya sebagai juru tulis sekaligus juru gambar tentang kebudayaan. Berpuluh-puluh kota pernah ia singgahi. Namun agaknya ia akan lama ditugaskan di Solo ini.
Suatu malam, ketika ia baru selesai mengirim berita lewat email. Ia berjalan-jalan mengitari kota Solo. Dengan sepeda motornya ia berkeliling Solo. Sampailah ia pada sebuah warung hik. Ia melepas penat di sana dengan memesan kopi hangat untuk melawan dinginnya malam kota Solo. Malam itu tepat pukul sebelas. Warung hik itu tidak begitu ramai, hanya dua orang dan satu penjual yang sedang mengobrol di sana ketika Raka akan datang. Raka tidak ukut dalam obrolan itu, ia memilih duduk lesehan sendiri di sebuah tikar yang kosong di sebelah hik itu.
Raka mengarahkan kameranya dengan pencahayaan yang disesuaikan keadaan malam itu. Tak sengaja kameranya menangkap sosok seorang gadis. Kalau dikira-kira masih seumuran dengan Raka. Ia pun mengambil gambar gadis itu. Raka mengamati gadis itu dengan seksama dengan kedua matanya. Tampak anggun dari kejauhan. Sambil menyeruput kopinya, ia tetap memandang gadis itu. Gadis yang sedang duduk di sebuah halte. Ia membatin “sedang apa gadis itu malam-malam begini?”. Raka menangkap gerak-gerik gadis itu yang sedang gelisah. Semakin lama gadis itu semakin gelisah. Tidak tahu mengapa Raka ingin mengetahui secara dekat tentang gadis itu. Ia kemudian membayar kopinya dan pergi mendekati gadis itu.
“Maaf mbak, malam-malam begini bus sudah tidak ada” Raka membuka pembicaraan.
“Maaf mas, saya menunggu teman saya yang akan menjemput, namun tidak juga datang”
“Bukannya berniat apa-apa, bolehkah saya menemani mbak di sini, malam-malam banyak bahaya”
“Ehm....ya terima kasih”
Ternyata mereka berdua mempunyai sifat yang mudah akrab. Mereka pun saling ngobrol tentang diri mereka masing-masing. Ternyata gadis itu bernama Hesty. Dari ceritanya, ia minggat dari rumah karena bertengkar dengan orang tuanya. Semua itu berawal dari ketidaksetujuan Hesty untuk dijodohkan dengan lelaki pilihan orang tuanya. Raka mengerti kesedihan yang dialami oleh Hesty, seorang gadis yang baru saja dikenalinya. Malam itu sebenarnya Hesty tak menunggu temannya, ia hanya ingin sendiri dengan otak penuh tanda tanya untuk memutuskan pulang ke rumah atau tidak. Dan ia pun bertekad untuk tidak pulang ke rumah.
“Terus malam ini kamu mau di sini terus?, malam-malam gadis seperti kamu di sini sangat berbahaya” Raka bertanya pada Hesty.
“Pokoknya aku tak ingin pulang malam inai, kalaupun pulang, aku ingin besok, lusa atau bahkan tidak pulang sama sekali”
Mereka hening dalam pembicaraan. Namun tiba-tiba Raka mengajak hesty untuk pergi ke suatu tempat. Tampaknya Hesty begitu percaya penuh dengan Raka. Penampilan Raka memang rapi dan tak ada tampang preman sedikitpun. Ia sangat berkarakter menjadi seorang wartawan. Raka mengajak Hesty untuk pergi mengelilingi kota Solo. Mereka mulai berjelajah dengan sepeda motor dari ujung jalan ke jalan lain, hingga ke kompleks-kompleks perumahan. Sudah tampak senyum pada Hesty yang semula hanya berselimut mendung kesedihan.
Jam menunjukkan sekitar pukul dua dini hari. Mereka memutuskan untuk beristirahat. Lelah seharian mencari berita tak dirasakan oleh Raka. Entah mengapa hal itu dapat terjadi. Padahal biasanya jika Raka lelah mencari berita seharian ia akan tidur lebih awal karena kantuk yang tak tertahan. Mereka beristirahat pada sebuah jembatan ditepi sawah pinggiran kota Solo sambil mendengarkan gemiricik air dan suara serngga malam yang membuat semacam melodi alami.
“Aku tak ingin melupakan indah malam ini” hesty membuka pembicaraan.
“Aku juga, aku tidak tahu mengapa aku bisa senyaman ini dekat dengan seorang gadis, apalagi baru beberapa jam lalu aku mengenalnya”
Tak berapa lama kemudian muncul mobil bak terbuka dari ujung jalan. Dan ternyata mobil itu adalah mobil polisi yang sedang patroli malam. Mereka ditanyai polisi tentang keberadaan mereka di tempat yang sepi itu. Akhirnya untuk mendapatkan info yang jelas polisi membawa mereka ke kantor polisi. Di sana mereka dituduh melakukan perbuatan maksiat ditempat umum. Dan malam itu pun sebelum mereka berada dalam cengkeraman polisi, ada laporan tentang orang hilang. Dan ternyata pelapor tadi adalah orang tua Hesty. Kasus semakin mencuat karena Raka bisa dituduh sebagai orang yang membawa lari anak gadis orang lain.
Pagi hari orang tua Hesty tiba di kantor polisi. Raka menjelaskan duduk permasalahannya kepada polisi maupun orang tua Hesty. Dari penjelasannya, tuduhan dan kasus yang menimpa Raka dan Hesty dicabut. Dari kejadian itu Hesty semakin dekat dengan Raka. Orang tua Hesty pun suka dengan Raka. Mereka membatalkan untuk menjodohkan Hesty dengan seorang lelaki pilihannya. Tak selang beebrapa hari, karena sebuah kecocokan, Hesty pun menjadi kekasih Raka. Tak hanya itu, Raka sudah tegas dan telah melamar secara langsung kepada orang tua Hesty.
Namun seminggu sebelum pertunangan, Raka mendapat tugas untuk meliput konflik di Timur Tengah, menggantikan rekan wartawannya yang sakit parah. Secara umum ini adalah bukan bidangnya, walau secara teknis ia pasti bisa melakukannya. Dengan jiwa kewartawannya ia berangkat memenuhi tugas itu. Sebelumnya ia minta ijin dari Hesty dan orang tuanya sekaligus menunda acara pertunangan. Ia berjanji pada Hesty akan kembali setelah tugasnya selesai, karena tugas ini hanyalah tugas cadangan untuk mengisi kekosongan. Ia pasti akan kembali ke Solo.
Dalam sebuah pancaran kasih sayang, Hesty setia menunggu kekasih hatinya. Kekasih hati yang ia kenal dalam waktu yang singkat. Namun aura cinta mereka memang sangat kuat.
Hesty hanya melamun di ruang tamu rumahnya sambil menatap foto Raka yang berukuran empat kali tiga centimeter. Sudah sebulan ini Raka ditugaskan ke Timur Tengah. Hanya seminggu sekali Raka menelepon Hesty tentang keberadaannya. Setiap menelepon, Raka memberi tahu kalau ia belum tahu kapan tugasnya beakahir. Dan ini genap satu bulan. Terakhir raka menelepon hesty bahwa tugasnya masih sekitar satu sampai dua bulan lagi.
Sebuah ketukan pintu mengagetkan Hesty. Ia tergagap dan lamunannya pun buyar. Ia membuka pintu itu. Dengan wajah kaget Hesty menatap apa yang dilihatnya di depan pintu. Belum sempat ia melepas kagetnya, Orang di depan pintu segera memeluk Hesty dan berkata “ Kejutan untukmu sayang, aku telah kembali tanpa mengabarimu terlebih dahulu”.
Andi Dwi Handoko
Andi Dwi Handoko Pendidik di SMP Negeri 2 Jumantono. Pernah mengajar di SD Ta'mirul Islam Surakarta dan menjadi editor bahasa di sebuah surat kabar di Solo. Suka mengolah kata-kata di DapurImajinasi dan kadang juga di media massa. Pernah juga mencicipi sebagai pelatih Teater Anak dan Pimred Majalah Sekolah. Suka juga bermusik. Hubungi surel adhandoko88@gmail.com, Instagram adhandoko88, atau facebook.com/andi.d.handoko

Posting Komentar untuk "Pertemuan"

Berlangganan via Email