Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Jurnal Refleksi Dwimingguan Modul 3.3. Pengelolaan Program yang Berdampak Positif pada Siswa


Jurnal Refleksi Dwimingguan 
Modul 3.3. Pengelolaan Program yang Berdampak Positif pada Siswa

Oleh: Andi Dwi Handoko, S.Pd.

Calon Guru Penggerak Angkatan VII

Fasilitator: Wiwik Intarti, S.Pd.

Pengajar Praktik: Drs. Harry Pramudjoko

Di postingan ini saya menulis jurnal refleksi dwimingguan sesuai dengan pengalaman saya dalam proses pendidikan guru penggerak Angkatan ke-7. Jurnal refleksi ini saya tulis setelah saya mengikuti dan mempelajari modul 3.3. dengan topik Pengelolaan Program yang Berdampak Positif pada Siswa. Dalam menulis jurnal, saya menggunakan model 4F, yakni Fact (peristiwa), Feeling (perasaan), Findings (pembelajaran), Future (penerapan). 

Berikut jurnal refleksi dwimingguan modul 3.3. dengan topik Pengelolaan Program yang Berdampak Positif pada Siswa.

1. Fact (Peristiwa)

Saya memulai mempelajari modul 3.3. dengan topik Pengelolaan Program yang Berdampak Positif pada Siswa di LMS dengan alur MERDEKA, yakni:

a. Mulai dari Diri 

Pada tanggal 15 Mei 2023, saya mulai mempelajari modul 3.3 Pengelolaan Program yang Berdampak Positif pada Siswa dengan mengerjakan tugas yang ada di bagian Mulai dari Diri. Tujuan kegiatan Mulai dari Diri adalah melakukan refleksi terhadap pengalaman belajar mereka di masa lalu untuk menyimpulkan apa yang dimaksud dengan program yang berdampak pada murid. 

Di bagian awal Mulai dari Diri 3.3., ada pertanyaan pemantik, yakni:

1) Apa yang dimaksud dengan program yang berdampak pada murid?

2) Bagaimana kaitan antara program yang berdampak pada murid dengan kepemimpinan murid (student agency)?

Jawaban saya:

1) Program yang berdampak kepada murid adalah program yang buat sesuai kebutuhan murid untuk mengembangkan potensi murid dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. 

2) Adanya program yang berdampak kepada murid akan mendukung terwujudnya kepemimpinan murid (student agency).

Di bagian ini saya juga melakukan refleksi terkait pengalaman selama menjadi murid dalam mengikuti program di sekolah. Saya juga melakukan refleksi terkait pembelajaran apa yang ingin diharapkan setelah mempelajari modul 3.3. ini. 


b. Eksplorasi Konsep

Di bagian eksplorasi konsep, saya belajar di LMS tentang kepemimpinan murid (student agency). Saat murid memiliki kontrol atas apa yang terjadi, atau merasa bahwa mereka dapat mempengaruhi sebuah situasi inilah, maka murid akan memiliki apa yang disebut dengan “agency”. Murid mendemonstrasikan “student agency” ketika mereka mampu mengarahkan pembelajaran mereka sendiri, membuat pilihan-pilihan, menyuarakan opini, mengajukan pertanyaan dan mengungkapkan rasa ingin tahu, berpartisipasi dan berkontribusi pada komunitas belajar, mengkomunikasikan pemahaman mereka kepada orang lain, dan melakukan tindakan nyata sebagai hasil proses belajarnya.

Saat murid menjadi pemimpin dalam proses pembelajaran mereka sendiri (atau kita katakan: saat murid memiliki agency), maka mereka sebenarnya memiliki suara (voice), pilihan (choice), dan kepemilikan (ownership) dalam proses pembelajaran mereka. Lewat suara, pilihan, dan kepemilikan inilah murid kemudian mengembangkan kapasitas dirinya menjadi seorang pemilik bagi proses belajarnya sendiri.

Voice (suara) adalah pandangan, perhatian, gagasan yang diekspresikan oleh murid melalui partisipasi aktif mereka di kelas, sekolah, komunitas, dan sistem pendidikan mereka, yang berkontribusi pada proses pengambilan keputusan dan secara kolektif mempengaruhi hasilnya. Pilihan (choice) adalah peluang yang diberikan kepada murid untuk memilih kesempatan-kesempatan dalam ranah sosial, lingkungan, dan pembelajaran. Sementara itu, kepemilikan adalah kondisi saat murid terhubung (baik secara fisik, kognitif, emosional) dengan apa yang sedang dipelajari, terlibat aktif, dan menunjukkan investasi pribadi dalam proses belajarnya, maka kita dapat mengatakan bahwa tingkat rasa kepemilikan mereka terhadap proses belajar tinggi.

Upaya menumbuhkembangkan kepemimpinan murid akan menyediakan kesempatan bagi murid untuk mengembangkan profil positif dirinya, yang kemudian diharapkan dapat mewujud sebagai pengejawantahan profil pelajar Pancasila dalam dirinya.

Lingkungan yang menumbuhkembangkan kepemimpinan murid akan memiliki beberapa karakteristik, di antaranya adalah:

1. Lingkungan yang menyediakan kesempatan untuk murid menggunakan pola pikir positif dan merasakan emosi yang positif

2. Lingkungan yang mengembangkan keterampilan berinteraksi sosial secara positif, arif, dan bijaksana

3. Lingkungan yang melatih keterampilan yang dibutuhkan murid dalam proses pencapaian tujuan akademik maupun non-akademiknya

4. Lingkungan yang melatih murid untuk menerima dan memahami kekuatan diri, sesama, serta masyarakat, dan lingkungan di sekitarnya

5. Lingkungan yang membuka wawasan murid agar dapat menentukan dan menindaklanjuti tujuan, harapan atau mimpi yang manfaat dan kebaikannya melampaui pemenuhan kepentingan individu, kelompok, maupun golongan

6. Lingkungan yang menempatkan murid sedemikian rupa sehingga terlibat aktif dalam proses belajarnya sendiri

7. Lingkungan yang menumbuhkan daya lenting dan sikap tangguh murid untuk terus bangkit di tengah kesempitan dan kesulitan

Komunitas-komunitas yang mendukung kepemimpinan murid akan memahami bahwa sesungguhnya murid-murid memiliki suara, pilihan, dan kepemilikan. Mereka akan berusaha menciptakan kesempatan-kesempatan yang mendorong tumbuhnya dan berkembangnya berbagai sikap dan keterampilan-keterampilan penting dalam diri murid, misalnya sikap percaya diri, mandiri, kreatif, gigih, keterampilan berpikir kritis, dalam berbagai interaksi yang mereka lakukan dengan murid, sehingga murid akan senantiasa merasa didukung, berdaya, dan memiliki efikasi diri yang tinggi. Komunitas memiliki peran penting dalam membantu mewujudkan lingkungan belajar yang mendukung tumbuhnya kepemimpinan  murid karena:

1. membantu menyediakan kesempatan bagi murid untuk mewujudkan pilihan dan suara mereka.

2. membantu murid untuk belajar melihat dan merasakan dampak dari pilihan dan suara yang dibuatnya.

3. membantu membentuk identitas diri dan efikasi diri murid yang lebih kuat.

4. membantu murid untuk dapat tumbuh menjadi agen perubahan yang dapat memberikan kontribusi yang berarti terhadap diri sendiri, orang lain, masyarakat serta lingkungan di sekitarnya.


c. Ruang Kolaborasi

Ruang kolaborasi di modul 3.3. Pengelolaan Program yang Berdampak Positif pada Siswa ini dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama adalah diskusi dengan anggota kelompok dan yang kedua adalah presentasi hasil diskusi tersebut. Semua itu dilakukan secara daring melalui Gmeet. Diskusi kelompok di ruang kolaborasi pertama dilakukan pada tanggal 22 Mei 2023. 

 

Sementara itu, presentasi hasil diskusi dilaksanakan pada tanggal 23 Mei 2023.

 

Hasil dari diskusi Ruang Kolaborasi kelompok saya bisa dilihat melalui video berikut: 


d. Demonstrasi Kontekstual

Demonstrasi kontekstual dijadwalkan pada tanggal 23 dan 24 Mei 2023. Di bagian ini saya mendapatkan tugas dengan tujuan mengembangkan ide dari ruang kolaborasi menjadi sebuah prakarsa perubahan dalam bentuk rencana program/kegiatan yang memanfaatkan model manajemen perubahan BAGJA.

Tugas demonstrasi kontekstual yang saya buat dapat diakses melalui video berikut: 


e. Elaborasi Pemahaman

Tujuan elaborasi pemahaman di modul 3.3. adalah calon guru penggerak dapat mengelaborasi pemahamannya tentang strategi pengelolaan sumber daya melalui proses tanya jawab dan diskusi menggunakan moda konferensi daring dengan instruktur. Saya melakukan elaborasi pemahaman dengan instruktur melalui Gmeet pada tanggal 26 Mei 2023. Instruktur yang memandu kegiatan elaborasi adalah Ibu Herny.

 

f. Koneksi Antar-Materi

Di bagian koneksi antarmateri Modul 3.3 Pengelolaan Program yang Berdampak Positif pada Siswa, saya membuat simpulan, keterkaitan dengan modul lainnya, dan refleksi. Hasil koneksi antarmateri modul 3.2. saya tuangkan dalam tautan: 


g. Aksi Nyata

Aksi nyata berisi pemahaman saya tentang modul 3.3 yang diterapkan secara nyata. Di aksi nyata ini saya membuat rencana program dengan BAGJA. Namun, di aksi nyata ini poin utama yang dijelaskan adalah pada tahap B (buat rencana) dan A (Ambil Pelajaran).

2. Feeling (Perasaan)

Selama saya mempelajari modul 3.3., saya merasakan perasaan yang semangat dan senang. Saya bersemangat karena di modul 3.3. saya belajar mengenai kepemimpinan murid, suara, pilihan, dan kepemilikan, lingkungan yang menumbuhkan suara, pilihan, dan kepemilikan, dan peran komunitas dalam mewujudkan lingkungan belajar.  Saya juga merasa tertantang dengan tugas yang ada di modul 3.3. ini karena saya harus membuat sebuah program yang berpihak kepada siswa.

3. Findings (Pembelajaran):

Di Modul 3.3. saya menjadi paham tentang program yang berdampak positif pada murid. Ternyata, program yang dirancang untuk dilaksanakan siswa adalah program yang memperhatikan aspek suara, pilihan, dan kepemilikan siswa. Tujuan utamanya adalah tentu untuk mewujudkan kepemimpinan murid atau student agency. Program juga harus dirancang dengan memperhatikan profil pelajar Pancasila. Tidak hanya itu, program juga disesuaikan dan memperhatikan lingkungan yang mendukung siswa dalam belajar. 

4. Future (Penerapan)

Setelah memahami modul 3.3., saya akan menerapkan materi-materi di dalamnya saat merancang sebuah program yang berdampak pada murid. Setelah itu, saya akan melaksanakan program yang sudah dirancang dengan baik sehingga diharapkan terwujud kepemimpinan murid melalui program tersebut. 

Andi Dwi Handoko
Andi Dwi Handoko Pendidik di SMP Negeri 2 Jumantono. Pernah mengajar di SD Ta'mirul Islam Surakarta dan menjadi editor bahasa di sebuah surat kabar di Solo. Suka mengolah kata-kata di DapurImajinasi dan kadang juga di media massa. Pernah juga mencicipi sebagai pelatih Teater Anak dan Pimred Majalah Sekolah. Suka juga bermusik. Hubungi surel adhandoko88@gmail.com, Instagram adhandoko88, atau facebook.com/andi.d.handoko

Posting Komentar untuk "Jurnal Refleksi Dwimingguan Modul 3.3. Pengelolaan Program yang Berdampak Positif pada Siswa"