Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Di suatu Malam


Sepertinya malam telah bertambah malam, hingga bayang pun menjadi tebal menghitam tak terkikis sinar rembulan. Aku teduhkan wajahmu pada sandaran hatiku yang sepi terusik waktu. Hingga napasku memburu sebuah lentera kasih yang kau tulis dalam desiran angin malam. Lantunan lembut desah napasmu mengukir bingkisan hati untuk menenun sebuah cerita malam yang terlukis dalam sebuah lamunan yang kau ciptakan. Tak tercerai tetes embun kau siramkan selaksa kasih sayang dan kau hujamkan sebuah sajak kedamaian untuk mimpi hangat yang melelapkan singgasana anganku. Terusir kata aku sampaikan risalah hati untuk langit-langit jiwamu yang anggun menari bersama tiupan bayu. Lekuk gerak tubuhmu mengisyaratkan sebuah rasa yang membahana memenuhi ruang batin. Tak lain redup sang surya telah memadamkan senja dan membingkai hari menjadi lanskap malam yang indah. Lebih indah karena ada indahmu di sisiku. Detik irama lagu hati terus telantun menjadi sebuah bait dalam penggalan cerita hati. Inginku sandarkan hangat pelukmu di bahku kemudian melantunkan lirik dongeng malam, hingga sayu matamu menjadi indah terburai lembut buaian jemari. Layangkan mimpi pada sebuah singgasana keindahan berhiaskan tahta kedamaian. Lentik alismu meneduhkan setiap kata yang terucap dalam benakku. Mencoba menyampaikan rahasia hati yang terpendam dalam titian batu cadas yang lama terkikis gemericik air yang menetes dari dalam gemuruh jiwa. Kau tuntun arahku menuju singgsana keindahan yang terpahat indah sajak-sajak hati. Setiap kata yang terukir membiaskan rasa di antara kita. Tersulam sutra keabadian dalam suatu keindahan. Luluhkan rasa hangat dan alirkan nada-nada pendamai jiwa di atas semayam lelapku di atas pangkuan mimpi indah bersamamu.
Layangkan lamunan, kita terbang menghempas awan yang berarak mengikuti langkah kita. Seperti pasukan tentara yang mengawal sepasang insan menikmati taman surga. Di temani ribuan peri-peri kecil menari membawakan gerak lekuk indah menenteramkan sukma. Tak ada gelisah, tak ada rona semburat wajah yang kusam dalam titian hati kita. Ku bingkai malam menjadi sebuah hadiah terindah yang berhiaskan ribuan bintang. Ku teduhkan sang rembulan dengan tempias sinarnya dan membiarkan sayap malam menerbangkan angan jauh menyusuri langit.
Terangkai asa kau labuhkanku pada sebuah pulau. Hanya ada kita berdua menikmati suasana pantai dengan hamparan pasir putih yang landai. Senja mengantarkan puluhan camar mendendangkan nyanyian tentang hati. Kita nikmati lepas pantai dengan semburat sinar mentari yang jingga. Berkendara perahu berdayung cinta kita, labuhkan langkah kita setelah lelah menyusuri pantai senja. Dan saat itu ku rindukan dayung kerinduanmu!!!!!
Andi Dwi Handoko
Andi Dwi Handoko Pendidik di SMP Negeri 2 Jumantono. Pernah mengajar di SD Ta'mirul Islam Surakarta dan menjadi editor bahasa di sebuah surat kabar di Solo. Suka mengolah kata-kata di DapurImajinasi dan kadang juga di media massa. Pernah juga mencicipi sebagai pelatih Teater Anak dan Pimred Majalah Sekolah. Suka juga bermusik. Hubungi surel adhandoko88@gmail.com, Instagram adhandoko88, atau facebook.com/andi.d.handoko

Posting Komentar untuk "Di suatu Malam"

Berlangganan via Email