Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Malam Terkutuk


Malam mengerang tanda masih ada kekejaman yang berkeliaran di setiap sudut tempat. Mata-mata merah itu masih berjaga dari balik jeruji pagar setiap rumah. Mereka menanti dengan nafsu yang berkejaran, hingga mereka dapat menemukan korbannya ketika penghuni rumah mulai terlelap dalam mimpi.
“Jangan sampai kau terlelap anakku!”
“Kenapa Bu? Aku sudah mengantuk, biarkan aku terlelap. Hari semakin larut dan sebentar lagi sudah fajar”
“Tidurlah jika kamu memang sudah lelah, namun tidurkanlah ragamu saja, jangan sampai mata, pikiran dan jiwamu kosong karena terlelap”
“Baik Bu”
Tampak raut wajahmu takut melihat pandangan mataku yang tajam ke arahmu. Aku sebenarnya tak tega melihat wajah ayumu yang lesu itu. Tak tahan aku melihat matamu yang memerah darah karena lelah menahan kantuk. Rasa ibaku secara naluriah datang. Namun aku lebih tak tega jika kau terlelap dalam tidur. Aku takut kau akan tidur selama-lamanya dalam dunia yang gelap.
Anakku, rasanya detak jantung ibumu ini semakin cepat berdetak, tapi terasa sekali nadi-nadiku semakin lama semakin lemah. Rasakan semua yang kurasakan. Ku genggam tanganmu menyentuh dadaku yang dingin dan berpacu dengan derasnya detak jantung. Terasa begitu kuat dan menimbulkan irama ketakutan dan kegelisahan di setiap detaknya. Semua bercampur menjadi satu seperti alunan lagu iblis yang memekakkan gendang telinga. Pecahan suara itu terus menghempas indera-indera yang peka dengan suara yang menyayat kehidupan. Hingga setiap sudut malam terdengar gema yang meluruh bersama angin pekat.
Ketika fajar telah merentangkan sayapnya. Kulihat kau sudah tak tahan lagi membuka matamu. Dengan sapuan angin dingin, ku tampar wajahmu agar kau tak terlelap. Kau mengerang kesakitan. Air matamu luruh dari bibir matamu yang memerah darah. Dalam isakmu, ku dengar nada kesedihan dan sedikit rasa kebingungan. Dari isakmu juga, ke dengar sedikit nada-nada kebencianmu kepadaku atas semua perlakuanku kepadamu. Walaupun demikian, tidakkah kau tahu betapa aku sangat mencintamu dan menyayangimu.
Matamu terlihat gelisah melihat perubahanku yang menjadi sosok ibu yang kejam bagi anaknya. Bahkan ibu kandung yang lebih kejam dari ibu tiri yang membenci anaknya. Muncul pertanyaan retoris dalam diriku, apakah ada seorang ibu yang ingin anaknya menderita? Semua ini ku lakukan untuk keselamatanmu juga.
Ku palingkan wajah, menatap pintu yang sudah terkunci rapat dari dalam. Semoga saja pintu itu tidak dapat terbuka dari luar hingga sinar mentari datang menyinari dunia. Suara endusan makhluk buas itu masih terasa mengisi ruang pendengaranku yang masih jeli ini. Mungkin kau tak mendengar, anakku! karena kau belum cukup ilmu untuk mendengarkan hal semacam ini.
Aku dari dulu sudah menyangka kalau malam ini akan datang di tengah sela hidupku. Mungkin malam terkutuk itu akan datang malam ini, mungkin juga malam-malam selanjutnya. Aku tak bisa memperhitungkan dengan pasti. Aku bukanlah seorang peramal. Aku hanyalah ibu dari seorang anak. Anak yang masih perawan dan berwajah ayu itu adalah hartaku yang paling berharga.
Aku meninggalkanmu sendiri dalam tempat tidur. Ku katakan lagi padamu bahwa kau tak boleh tidur hingga pagi nanti. Ku isyaratkan telunjuk tanganku untuk mengancammu. Ku selimutkan sebuah selimut tebal dan hangat di kakimu agar nyamuk tak menggigiti betismu yang putih itu. Aku keluar dari kamarmu hendak membuatkanmu kopi hangat agar dapat menahan mata sayumu agar tidak terlelap.
Dari sebuah jendela tanpa tirai, aku dapat melihat mereka bersembunyi dalam semak-semak yang mulai basah oleh embun malam. Mereka yang bermata merah menyala menyerupai serigala hutan.
Langkah kakiku mulai gontai karena pada dasarnya aku sendiri juga mulai mengantuk. Ku tuangkan air panas ke dalam dua buah cangkir kecil. Ketika ku menuangkan air panas itu, ku lihat air panas itu menguap dan bergerak membentuk semacam makhluk aneh yang sering ku lihat akhir-akhir ini di waktu malam hari. Aku segera membaca mantra pengusir kejahatan yang sekitar tiga tahun lalu di ajarkan oleh ayahku sebelum meninggal. Sekejap uap itu telah menjelma makhluk yang berkepala serigala dan bertubuh manusia. Aku terus membaca mantra dan ternyata ampuh juga. Makhluk itu berlari keluar menembus celah-celah jendela. Aku segera membuat kopi dan kembali ke kamar.
Di kamar itu aku menyuguhkan kopi untukmu. Aku juga menikmati kopi yang ku buat sendiri.
“Pahit Bu!”
“Tidak apa-apa Nak, ayo diminum sedikit demi sedikit”
Aku tahu memang kau tidak suka bahkan jijik dengan rasa pahit. Aku sengaja membuat kopi pahit agar rasa kantukmu hilang.
Aku mendekat ke jendela. Dan ku lihat mereka menari-nari di bawah cahaya bulan. Bulan yang sudah berbentuk lingkaran sempurna. Purnama di tengah hitungan bulan. Ini memang tepat sekali untuk pesta pora bagi makhluk-makhluk turunan iblis seperti mereka. Mereka menelanjangi malam dan membuat kegelisahan di segala tempat.
Perlahan malam sampai pada puncaknya. Tepat sekali, waktu itu adalah waktu tengah malam. Ku dengar mata-mata merah itu keluar dari semak-semak dan bersahutan meneriakkan lolongannya.
“Lolongan kematiankah” aku membatin sambil kembali ke tempat tidur.
Lolongan-lolongan terus bersahutan mengisi hampa malam yang dingin.
“Tidak!! Semua tidak akan aku relakan untuk makhluk-makhluk kejam menjijikkan itu” aku geram sendiri melihat kenyataan yang ada di kehidupanku.
Kembali pusat perhatianku tertuju pada sesosok tubuh mungil di depanku yang terasa berat menahan rasa kantuknya. Aku melemparkan senyum padanya. Ku belai rambutnya yang tergerai indah.
“Bu, aku tidur sekarang ya!” kau meminta dengan permntaan yang tulus.
Kembali aku tak tega untuk memarahimu lagi. Lalu ku ajak kau untuk menonton TV di ruang depan. Ku tuntun kau melewati lantai yang dingin tersapu sepoi malam. Dalam langkah menuju ruang depan. Aku sempat melihat ke arah jendela dan melihat sesosok makhluk berwajah serigala dan bertubuh manusia menempelkan wajahnya tepat di kaca jendela. Seketika itu juga aku berteriak kaget.
Ku lihat kau juga kaget mendengar teriakanku.
“Ada apa Bu?” dengan nada kepanikan kau bertanya padaku tentang apa sebenarnya yang terjadi.
Tidak sengaja aku menjawabnya dengan bahasa isyarat berupa acungan telunjuk yang mengarah ke jendela. Mataku tak berkedip melihat jendela dengan mulutku yang menganga lebar.
“Tidak ada apa-apa di jendela, Bu”
Aku segera sadar dengan keadaanku. Aku mampu menenangkan diriku dengan berkata “Memang tidak ada apa-apa di jendela, aku hanya menakutimu biar kau tak mengantuk.” sambil ku paksakan senyum kecil di wajahku. Sungguh suatu alasan yang sangat ironis.
Aku menyalakan TV untuk sekedar menghiburmu. Acara tengah malam memang tidak banyak bisa menghibur. Yang ada hanyalah sebuah film yang menggambarkan tentang kekejaman. Tampak di layar TV menampilkan kobaran api yang meluluhlantahkan rumah-rumah. Ledakan terjadi di sana-sini. Dan ku lihat kau menikmati adegan-adegan itu di TV. Aku senang kau bisa terhibur dan tidak mengantuk lagi. Aku pun semakin lama juga semakin larut dengan cerita dalam film tersebut. Tak sadar fokus perhatianku justru tertuju pada film tersebut bukan kepadamu. Adegan demi adegan telah mampu menghipnotisku untuk menimatinya lebih lanjut. Dan juga ku biarkan kau terlena dengan adegan-adegan itu. Aku tidak berpikir lagi bahwa ada ancaman di luar yang mengancam jiwa dan ragamu. Aku sendiri juga semakin terlena dengan cerita film tersebut. Namun lambat laun mataku pun sayu seperti terhipnotis oleh adegan film dan dingin malam. Tubuhku rubuh di atas tikar dengan mata terpejam. Terlelap dalam kesempurnaan mimpi.
Detik pun berlalu dengan cepat. Menit dan jam akhirnya berganti. Aku menggeliatkan tubuhku. Dan secara gugup aku bangun dari tidurku. Ku lihat samar TV masih menyala. Kemudian pandanganku kembali ke arah samping. Tidak ada apa-apa di situ. Yang ada hanyalah sebuah bantal dan guling serta sebuah selimut tebal menghampar tak beraturan. Pikiranku langsung tertuju padamu, anakku!. Hatiku bertanya-tanya “Di mana anakku?”
Ku cari kau di setiap sudut ruang dalam rumah itu. Ku telusuri setiap ruang-ruang kosong dari ruang depan, dapur kamar mandi sampai loteng. Tidak kutemukan sosok tubuhmu, anakku! Aku menahan rintih tangisku berharap semua akan baik-baik saja.
Aku terus mencarimu di setiap sela yang bisa ku cari. Tak ku temukan kau di manapun. Hatiku pun semakin gelisah. Ku mencoba membuka pintu, namun hatiku tetap ragu. Antara ku buka dan tidak ku buka, pilihan itu membuatku semakin bingung dan gelisah serta takut yang mendalam. Akhirnya dengan dorongan jiwa yang kuat, ku buka pintu itu secara perlahan. Dan ku dapati pemandangan di depanku yang membuatku kaku membeku dan tak mampu berkata apa pun.
Makhluk-makhluk bermata merah menyala itu sudah mendapatkan tubuh anakku. Mereka menjilati setiap bagian tubuh anakku. Keperawanannya pun telah terenggut oleh makhluk yang paling besar di antara puluhan makhluk itu. Aku hanya tercekat membisu tak bergerak. Menyaksikan puluhan makhluk menggerayangi tubuh anakku yang putih mulus dan ayu itu. Bahkan mereka menghisap darah keperawanannya dengan buas. Aku sebenarnya tak tahan mendengar erangan dari mulut anakku yang kesakitan. Sampai beberapa waktu, erangan itu berhenti dan tak ada suara anakku lagi. Yang ada hanyalah suara lolongan makhluk-makhluk buas itu. Aku merintih menangisi semua apa yang telah terjadi. Aku tidak bisa mencegah ulah makhluk-makhluk kejam itu. Aku berteriak sekencang-kencangnya memecah lolongan mereka di antara fajar yang sudah meninggi.
Dan makhluk yang paling besar pun menemuiku.
“Terima kasih atas kesediaannya mempersembahkan anak perempuanmu yang masih ranum dan perawan itu”
“Iblis kau, setan alas, bedebah”
“Tak usah memakiku seperti itu, memang itulah aku, namun kau juga tak boleh menyesal karena leluhurmu telah berjanji di atas malam. Setiap tiga tahun sekali di antara purnama yang sempurna untuk memberi tumbal. Dan kau sudah diberi keringanan untuk tidak memberi tumbal jika seluruh anggota keluargamu mampu tidak terlelap mimpi hingga pagi sampai akhir purnama yang sempurna”
Aku menangis sejadinya. Tak mampu menahan tetes air mata. Ku lihat sosok tubuh anakku kini telah menjadi bangkai.
“Anakku!! Ku tangisi kepergianmu dengan air mata penyesalan.” Bisikku dalam hati.
Semua telah berlalu. Aku tidak tahu salah siapakah ini. Leluhurku yang sarat dengan ilmu-ilmu hitam pesugihan atau aku yang lengah untuk menjaga peraturan itu.
Tiga tahun pun berlalu. Malam-malam terkutuk masih menungguku. Entah sampai kapan, mungkin sampai mereka menjemput ajalku dan seluruh keturunan leluhurku pun habis tanpa sisa di bumi ini.
Dan malam-malam pun mengerang tanda masih ada kekejaman yang berkeliaran di setiap sudut tempat. Mata-mata merah itu masih berjaga dari balik jeruji pagar setiap rumah. Mereka menanti dengan nafsu yang berkejaran, hingga mereka dapat menemukan korbannya ketika penghuni rumah mulai terlelap dalam mimpi. Entah sampai kapan?

Surakarta, 19 Februari 2008
gambar dari: nesia.wordpress.com
Andi Dwi Handoko
Andi Dwi Handoko Pendidik di SMP Negeri 2 Jumantono. Pernah mengajar di SD Ta'mirul Islam Surakarta dan menjadi editor bahasa di sebuah surat kabar di Solo. Suka mengolah kata-kata di DapurImajinasi dan kadang juga di media massa. Pernah juga mencicipi sebagai pelatih Teater Anak dan Pimred Majalah Sekolah. Suka juga bermusik. Hubungi surel adhandoko88@gmail.com, Instagram adhandoko88, atau facebook.com/andi.d.handoko

Posting Komentar untuk "Malam Terkutuk"

Berlangganan via Email