Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Surat Di Tengah Bulan


Musim ini tak seperti musim setahun yang lalu. Angin berdesis pelan menghempas tanah yang menjadi debu karena terkikis sengatan surya. Semilir pagi terasa dingin di sekujur tubuh. Membawa insan-insan untuk selalu betah dalam lelap sejak malam hari. Malas untuk melihat mentari cerah. Padahal mentari itu yang akan menghangatkan sekujur badannya yang kedinginan. Musim belum menandakan akan datang hujan. Hari-hari masih melenggang panas di teriknya cuaca di musim ini. Pohon mahoni dan jati di depan rumah sudah mulai meranggas hingga hanya menyisakan pupus–pupus kecil yang menandakan bahwa pohon itu masih hidup. Masih jelas terasa hawa saat musim tahun lalu tak seperti musim yang sekarang. Ini adalah awal Oktober di tahun ini. Udara tetap terasa dingin memeluk kulit hingga kulit terlihat mengerut seperti bersisik.
Yogjakarta, awal Oktober setahun yang lalu. Aku masih ingat jelas hari itu. Di hari itu usiaku genap lima belas tahun. Itu adalah hari ulang tahun yang paling berkesan sejak aku dilahirkan di dunia ini. Saat itu, aku, ayah, dan ibuku menghabiskan waktu seharian di sebuah taman yang tak jauh dari rumah kami. Kebersamaan dan keintiman yang sangat nyata jelas kurasakan dalam diriku. Aku sangat bahagia di masa itu. Ibuku yang ramah dan lemah lembut telah menjadikan aku sebagai manusia yang harus pandai menghargai sesama, mengajarkan aku tentang kedamaian, kebersamaan dan sebagainya. Ia pun dengan sabar membimbingku untuk menjadi manusia yang berguna bagi siapapun dan di manapun. Ibuku memberi sebuah kamus besar bahasa inggris sebagai hadiah ulang tahunku yang kelima belas. Katanya, aku harus banyak belajar bahasa inggris karena kemampuanku berbahasa inggris masih jauh di bawah teman-teman sebayaku. Tak ketinggalan ayah, seorang anggota TNI yang sangat kusayang dan kuhormati. Langkah tegap, dada bidang serta tinggi badan dipadu dengan sedikit kumis tebal membuat beliau begitu berwibawa. Tentunya tidak hanya itu semua. Sifat dan sikapnya memang mencerminkan sesosok ayah yang sangat berwibawa. Beliau juga memberiku kado yang sangat berharga dan bernilai bagi hidupku. Sebuah arloji anti air yang sangat bagus.
Beliau berpesan agar aku tidak menyia-nyiakan waktu. Waktu selalu menyertai kita. Dengan waktu kita diharuskan mengisi hidup ini dengan selaksa makna. Waktu tak dapat diputar kembali. Manusia berpijak pada urutan waktu. Waktu juga yang menuntun manusia sesuai jejak langkahnya masing-masing.
Kebahagiaan yang terjadi pada tahun lalu itu luruh ketika senja kala itu mulai mengaburkan mata. Ketika mendengar pernyataan ayah bahwa beliau tak dapat lagi sering bersama denganku dan ibuku.
Beliau akan ditugaskan ke Ambon karena banyak terjadi konflik di sana. Hal ini adalah tantangan terberat bagi kami. Apalagi aku baru saja mulai hari-hari awalku di sekolah menengah atas. Di waktu itu masih ada waktu tiga hari untuk ayah mempersiapkan diri untuk pindah tugas. Sungguh kenyataan yang harus kami terima dengan waktu yang sangat singkat.
Di hari keberangkatan ayah ke Ambon, kami mengantar beliau dengan iringan tetes air mata. Tetes air mata yang bukan menggambarkan kesedihan, namun menggambarkan suatu harapan. Suatu saat pasti ayah akan kembali dan menemani hari-hari di kehidupan kami dengan sebuah harapan yang cerah, harapan yang indah dan nyata. Semoga. Sejak saat itu kami hanya berdua di rumah. Walau begitu kami tak merasa sendirian, ada ayah di ujung pulau jauh sana. Setia janji padaku dan ibuku. Kami sayang dan hormat pada beliau. Ayah pun juga begitu, beliau begitu perhatian kepada kami. Menurut cerita ibu, sebelum mereka menikah, ayah sangat tergila-gila pada ibu. Dahulu mereka masih SMA. Di waktu itu, ayah sudah berkali-kali menyatakan cinta kepada ibu namun selalu ditolak. Dengan perjuangan yang begitu keras akhirnya ayah dapat meluluhkan hati ibu. Ayah selalu menuliskan puisi cinta dan memberikannya kepada ibu setiap pulang sekolah. Ibu yang memang seorang bintang sekolahpun harus luluh dengan perlakuan ayah. Hingga selanjutnya waktu yang mempertemukan mereka dalam ikatan cinta pada sebuah pelaminan. Dan lahirlah aku di dunia ini.
Sejak ayah di Ambon, beliau selalu memberi kabar lewat surat setiap bulan. Tepatnya di tengah bulan, entah itu tanggal 14, 15 atau 16. Kalaupun terlambat tidak akan sampai lebih dari tanggal 20 setiap bulan. Setiap tengah bulan kami selalu menantikan surat dari ayah. Terlebih Ibu yang memang benar-benar sayang dan cinta dengan ayah. Ayah sangat perhatian kepada kami. Setiap surat yang beliau kirimkan selalu terselip kertas biru yang khusus untuk ibu. Kertas biru yang berisi puisi cinta, aku pun sering mendapat puisi dari ayah namun tidak selalu setiap bulan dan kertas yang digunakannya menggunakan warna hijau, warna kesukaanku. Surat-surat itu pasti terkirim setiap bulannya. Aku juga tidak tahu bagaimana ayah menyisakan waktunya untuk semua itu. Namun itu semua tidak berlangsung lama. Tak genap setahun. Semua berakar dari kejadian di akhir Juni tahun ini. Di Ambon sedang diadakan perayaan untuk memeringati hari besar nasional yang dihadiri banyak pejabat negara. Namun di dalamnya ada sekelompok pengacau yang berani mengibarkan bendera asing. Hal ini jelas termasuk tindakan makar terhadap negera. Otak dan pelaku kejadian itu segera dicari dan ditelusur keberadaannya oleh petugas yang berwenang, termasuk ayah yang saat itu memang bertugas di sana. Dari kabar yang kuterima, ayah di tugaskan untuk memburu pelaku yang disinyalir melarikan diri ke Pulau Aboru. Pulau yang sangat dipercayai sebagai tempat persembunyian para pelaku makar di Ambon. Ayah bersama kompi pasukannya menggunakan speedboat untuk pergi ke pulau itu. Tidak hanya itu, mereka juga membawa seorang tawanan untuk mengetahui keberadaan para pelaku. Waktu itu malam hari. Angin melenggang cepat menghempas landai pantai. Speedboat melesat dengan kecepatan yang tinggi. Cuaca tak mendukung perjalanan itu. Rupanya akan datang badai. Namun perjalanan tetap berlangsung karena itu memang sering terjadi. Memang pada saat itu sedang maraknya badai laut dan tingginya ombak. Para nelayan pun harus berpikir dua kali untuk pergi melaut karena cuaca yang tak menentu. Speedboat yang ditumpangi ayah dan kompinya membelah pekat malam diiringi gemuruh badai.
Dan peritiwa itu terjadi, speedboat terbalik tertelan ganas ombak dan pekatnya malam. Mungkin di sana tidak terlihat apa-apa dan hanya terdengar gemuruh badai. Entah semua itu terjadi karena disebabkan alam atau ada pihak yang sengaja membuat kecelakaan itu terjadi. Semua orang tak tahu itu. Hanya saja setelah kejadian itu ayah menghilang seperti tertelan bumi. Pelaku yang juga sebagai tawanan yang ada di speedboat itu pun raib entah kemana. Semua orang telah memvonis ayah tewas dalam kecelakaan itu karena tak mampu bertahan di tengah laut yang berombak ganas. Aku tak percaya dengan semua itu. Aku yakin jika ayah adalah pecinta laut. Dari kecil beliau suka dan pandai berenang. Namun aku tak bisa pungkiri kalau ayah memang benar-benar pergi dari dunia ini karena tiga hari setelah itu setengah tubuh ayah yang masih dengan pakaiannya yang telah sobek-sobek ditemukan di pesisir pantai. Tak hanya air mata, batin dan jiwaku menangis dengan keras. Ibu tak bisa berbuat apa-apa, hanya linangan tetes air mata yang semakin lama semakin sering keluar. Aku yakin semua ini bukan karena kesalahan alam namun ada pihak yang telah menyutradarai kejadian itu, sehingga speedboat karam dan ayah tewas pada kejadian itu.
Surat itu tak pernah datang lagi. Sejak Juli lalu surat itu tak pernah datang, bahkan mungkin takkan pernah datang. Namun ibu belum percaya bahwa ayah telah pergi dari dunia ini. Ia selalu menanti surat itu setiap tengah bulan. Ia akan menunggu sampai larut malam di depan pintu berharap ada tukang pos yang mengantarnya. Bulan Juli tak ada surat yang datang ke rumahku. Aku hanya bersedih melihat ibu semakin merana, bahkan akal sehatnya mungkin telah terenggut karena ia memang sangat mencintai ayah. Aku tidak tega melihat ibu semakin terpuruk. Setiap hari hanya duduk di depan pintu menanti sesuatu yang tak pasti. Bahkan sering berbicara sendiri. Puisi-puisi dari ayah selalu dibawa oleh ibu dan kerap sekali membacanya dengan suara yang lembut karena memang puisi itu sangat lembut. Kadang ibu berteriak-teriak tidak karuan memanggil-manggil ayah. Tak kulihat lagi sosok seorang ibu seperti dulu. Banyak orang yang terharu akan kisah hidupku ini. Semua mendukung dan mendorong agar aku tetap tabah dengan cobaan yang bertubi-tubi ini.
Awal September tahun ini. Di suatu pagi yang cerah. Surat itu datang kembali. Surat yang pengirimnya adalah Bondan Prakoso, tak lain adalah nama ayahku. Aku menyerahkan surat itu kepada ibu.“Ibu!, tadi pagi ada tukang pos yang mengirimkan surat ini untuk kita”
“Ha..! Kenapa aku tidak melihatnya dan bukan aku yang menerimanya?“ Tadi pagi ibu ke kamar mandi dan aku yang menemui tukang posnya”
Segera surat itu kuserahkan ke ibu. Surat di tengah bulan September. Ibu membukanya dan mulai membacanya.
“Assalamualaikum wr. wb.
Untuk Bagas anakku tersayang dan Risty istriku tercinta. aku menulis ini dengan penuh kasih sayang. Aku baik-baik di sini, namun kemarin aku sempat terluka di bagian pergelangan tanganku karena terserempet peluru sewaktu tembak dengan musuh. Maka dari itu sekarang tulisanku berbeda dengan tulisanku yang dulu. Walau bagaimanapun isi suratku takkan pernah berbeda karena aku menulis dengan sebuah kasih sayang. Aku masih tetap sayang dan cinta terhadap kalian. Juli dan Agustus kemarin aku tidak sempat menulis surat karena aku sedang ditugaskan ke daerah terpencil dan aku tak sempat menuliskannya untuk kalian. Mungkin hanya ini surat yang aku tulis untuk kalian karena tugasku masih banyak sekali. Baik-baiklah kalian di sana. Untuk Bagas jangan malas belajar dan Risty istriku tercinta, aku sangat sayang dan cinta kepadamu.
Wassalam wr. wb.”
Itu adalah di kertas yang berwarna putih. Dan sekarang Ibu mulai membuka kertas biru yang terlipat dengan sangat indah dan rapi. Ia mulai membacanya.

“Risty sayang!

kau adalah bidadari di balik pualam senja

kau adalah putih bingkai kehidupan

menemani lelap tidur dalam pulas mimpi indah

kau sepuh buritan malam menjadi sebuah risalah

terasa hangat kau selimutkan di hati

menjelma menjadi embun melukis indah pagi

teruntai canda dalam bilik senyummu

kau urai menjadi bait-bait pengiring hari

waktu tak usai juga mengejawantah warna dunia

kau masih setia menemani kesepian jiwaku

dan membawa menjadi jiwa yang utuh”


Ibu menangis bahagia membaca surat tersebut. Ibu merasa bahagia karena mendapat surat dari ayah lagi.Tampak di pipinya buliran air mata kebahagiaan yang jatuh berlinang. Namun maafkan aku Ibu. Aku hanya tak ingin ibu bersedih. Maka kutulis surat dan puisi itu. Surat itu bukan dari ayah.
Musim di awal Oktober tahun ini, tak seperti musim setahun yang lalu. Tak ada lagi ayah disisiku. Tak ada lagi kasih seorang ibu yang menyertai hari-hariku. Sekarang aku hanya hanya sepenggal lilin kecil di dunia ini. Namun aku masih punya tekad untuk menjadi lentera yang akan menerangi dunia. Sekarang aku sendiri merenungi dan memaknai hidup yang harus aku jalani. Aku melihat ibu. Ia sedang membaca lagi surat palsu yang dulu aku tuliskan untuknya. Aku hanya ingin melihatnya bahagia. Ia masih menanti surat-surat selanjutnya di tengah bulan, bahkan di bulan ini. Kamus besar bahasa Inggris masih berada dalam rak buku kesayanganku dan arloji anti air masih setia menmpel di tangan kiriku. Sementara aku di sini sedang bingung membuat sebuah surat dan seuntai puisi untuk tengah Oktober nanti dan aku pun juga bertanya-tanya pada diriku sendiri, sampai kapan aku harus membuat surat-surat palsu untuk ibu.

Surakarta, 28 september 2007

Andi Dwi Handoko


Dimuat dan disunting SOLOPOS, Minggu, 16 Maret 2008
gambar dari: sofianblue.wordpress.com
Andi Dwi Handoko
Andi Dwi Handoko Pendidik di SMP Negeri 2 Jumantono. Pernah mengajar di SD Ta'mirul Islam Surakarta dan menjadi editor bahasa di sebuah surat kabar di Solo. Suka mengolah kata-kata di DapurImajinasi dan kadang juga di media massa. Pernah juga mencicipi sebagai pelatih Teater Anak dan Pimred Majalah Sekolah. Suka juga bermusik. Hubungi surel adhandoko88@gmail.com, Instagram adhandoko88, atau facebook.com/andi.d.handoko

Posting Komentar untuk "Surat Di Tengah Bulan"

Berlangganan via Email