Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Taman Kota, 06’02’09


Mendung hitam tebal sore itu tak jadi menjatuhkan hujan lebat yang lama. Beberapa menit saja hujan itu turun dengan derasnya. Namun kemudian menjadi pendar gerimis yang menyejukkan. Sejenak kemudian hilang, hanya bekasnya telah mengubah jalan, atap rumah, tanah terlihat basah. Namun gara-gara mendung itu aku membatalkan keinginanku untuk sekadar melamun di taman kota. Aku takut melamun di tengah-tengah hujan. Begitu kiraku. Aku pulang ke dalam istana peristirahatanku. Motorku ku masukkan ke tempatnya. Aku melepas lelah, berbaring di kasur hangat, namun mata tak mampu terpejam. Hingga aku mengantar senja ke dalam lelap peraduannya. Malam.
Hingga bakda isya’ aku tak beranjak dari kamar walau malam itu langit mulai cerah. Walau mendung tipis kadang berseliweran di langit, namun cahaya bulan mampu menerangi malam yang mulai kelam. Cahaya bulan seperti memberi pertanyaan pada manusia yang memandangnya. Dan manusia pun hanya bisa berdecak pasrah ketika tak mampu untuk menjawab pertanyaan itu.
Aku mulai bosan dengan dinding dan langit-langit kamarku. Aku beranjak pelan, mengeluarkan motorku dan menembus malam yang menyekat kota ini. lampu-lampu jalan seperti nyala lilin yang menemani perjalananku. Tak lupa ku sempatkan membeli sebungkus coklat dan sebungkus TARO (maaf bukannya promosi). dan setelah itu, hanya satu tujuan: Taman Kota, Tirtonadi.
Aku sampai di taman itu kira-kira setengah Sembilan. Menikmati kesendirian adalah tujuanku ke sana. Aku masuk ke dalam taman tersebut. Bagian barat suasananya temaram karena lampu tidak menyala. tampak kontras sekali dengan bagian timur, lampu taman menyala dengan terang. Ada cewek cowok di sela langkahku berjalan. Mereka tak terusik dengan kehadiranku. Hingga aku tiba pada sebuah bangunan yang melingkar,. Kira-kira itu adalah bangunan untuk kolam air mancur, namun belum difungsikan. Aku duduk disamping utara menghadap sungai.
Tiba-tiba ada seseorang lewat di pinggirku. Ia melihat-lihat ke arahku (tapi aku gak kepikiran kalau orang itu penjambret atau penodong). Dia kemudian menghampiriku dan bertanya “Gur dhewe to mas?” aku jawab “Ho oh mas, emang ngopo mas?” dia jawab “ohh..gak popo”…sepintas lalu orang itu pergi. Aku tak tau siapa orang itu. Aku kembali dalam kesendirianku.
Kurasa aku ingin jalan-jalan dulu. Aku ingin turun dulu, namun setelah di depan tangga turun. Aku kaget. Ada dua cowok cewek sedang duduk berpelukan dan mungkin cixx-xxxxan(sensor). Aku segera balik dan mengurungkan niatku untuk jalan-jalan di sekitar taman.Aku kembali ke tempatku semula namun agak bergeser ke barat. Dunia anak muda jaman sekarang memang sungguh membuat kepala geleng-geleng. Padahal secara hukum tindakan mereka itu dapat dijerat dengan hukuman pidana. Tindakan pelukan dan ciuman di tempat umum bisa dijerat hukum dan dipenjara selama dua tahun delapan bulan (2 TAHUN 8 BULAN). Kalau tidak percaya buka saja KUHP bab XIV pasal 281.
Aku tak memperdulikan apa yang baru saja ku lihat. Aku tengah menikmati kesendirianku. Sendiri di taman menikmati udara malam dan gemericik suara air sungai yang beberapa hari lalu sepertinya banjir karena di tengah kali aku lihat serumpun bambu menahan arus. Seharusnya rumpun bambu itu tidak ada di sana.
Aku mulai mengeluarkan coklatku. Aku menikmati coklat manis sembari memandang langit yang berhias bulan yang sesekali tertutup mendung tipis. Aku lihat beberapa kali pesawat dengan lampunya yang berkelip di langit sebelah barat daya. Aku rasa aku memperoleh hiburan tersendiri dengan suasana seperti ini.
Di sebelah baratku muncul lagi cowok cewek. Mereka duduk agak dekat denganku namun terhalang pohon. Aku melihat ke bagian timur bawah. Yah..cowok cewek tadi sekarang berdiri dan terlihat olehku. Mereka berpelukkan sambil berputar-putar, seperti adegan film india. Namun itu cukup menggangguku.
Tiba-tiba aku mendengar tangis. Ternyata itu tangis dari cewek yang berada di sebelah baratku. Entah mengapa ia menangis aku tak tahu. Sungguh kejadian yang sangat kontras. Di sebelah timurku ada sepasang manusia tertawa cecikikan dengan ulah yang mereka perbuat, sedangkan sebelah baratku ada cewek yang sedang menangis.
Aku semakin menikmati kesendirianku. Aku ambil handphoneku dan mengenakan headset. Ku putar alunan lagu dari erros dan okta, cahaya bulan ost Gie. Sungguh angat menyentuhku. Alunan lagu itu menyeretku ke dalam dunia rasa yang lain. Cahaya bulan yang remang-remang di malam itu menambah suasana menjadi tenang. Apalagi diselingi puisi dari gie (Nicholas saputra) yang mennyatakan bahwa “sejarah dunia adalah sejarah pemerasan, apakah tanpa pemereasan sejarah tidak ada?”. Aku mengeluarkan TAROku dan menghabiskannya sendiri.
Kemudian aku pulang. bayar parkir dulu Rp. 1000,-
Andi Dwi Handoko
Andi Dwi Handoko Pendidik di SMP Negeri 2 Jumantono. Pernah mengajar di SD Ta'mirul Islam Surakarta dan menjadi editor bahasa di sebuah surat kabar di Solo. Suka mengolah kata-kata di DapurImajinasi dan kadang juga di media massa. Pernah juga mencicipi sebagai pelatih Teater Anak dan Pimred Majalah Sekolah. Suka juga bermusik. Hubungi surel adhandoko88@gmail.com, Instagram adhandoko88, atau facebook.com/andi.d.handoko

Posting Komentar untuk "Taman Kota, 06’02’09"

Berlangganan via Email